GueBerita.com – Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah, bersama dengan Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN), secara resmi meluncurkan sebuah program terobosan yang diberi nama Hutan Wakaf Muhammadiyah.
Inisiatif ini pertama kali diimplementasikan di lingkungan Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS). Fokus utama program ini adalah pemanfaatan lahan wakaf seluas kurang lebih 3.000 meter persegi.
Kawasan yang dikembangkan ini dirancang untuk menjadi pusat pembelajaran ekologi, tempat riset, serta area konservasi. Mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum akan memiliki akses untuk mendalami berbagai ilmu, mulai dari agroforestri, ekologi, hingga praktik tata kelola lingkungan hidup yang berkelanjutan.
Baca juga: Kiandra Ramadhipa Raih Kemenangan di Race 2 Red Bull Rookies Cup Jerez dari Peringkat 17
Lebih dari sekadar berfungsi sebagai “paru-paru kota,” Hutan Wakaf ini juga akan berperan sebagai arboretum yang mengoleksi berbagai jenis tanaman endemik. Keberadaannya diharapkan mampu menjaga iklim mikro di area sekitarnya.
Pengembangan program Hutan Wakaf ini didasarkan pada tiga pilar model utama yang saling terintegrasi:
- Hutan Wakaf Pendidikan & Riset
- Hutan Wakaf Agroforestri
- Hutan Wakaf Pemberdayaan Perempuan
Peluncuran program ini menjadi sebuah respons dan solusi konstruktif terhadap tren pengelolaan hutan sosial yang saat ini dinilai terlalu berfokus pada aspek ekonomi semata. Program ini berusaha mengintegrasikan dimensi agama, budaya, dan konservasi yang murni.
Acara soft launching program ini telah diselenggarakan pada tanggal 19 Agustus 2025. Momen tersebut bertepatan dengan pelaksanaan Rapat Senat Terbatas dalam rangka Milad UNIMUS yang ke-26, sekaligus menandai lahirnya sebuah model pengelolaan lahan baru yang lebih berkelanjutan dan berlandaskan pada prinsip wakaf.
Ketua LHKP PP Muhammadiyah, Ridho Alhamdi, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan langkah nyata dalam menawarkan alternatif pengelolaan lahan yang inovatif. Ia menekankan pentingnya pendekatan yang berakar pada nilai-nilai Islam.
“Program ini menjadi alternatif pengelolaan lahan yang berbasis pada nilai Islam, konservasi, dan partisipasi masyarakat,” tegas Ridho dalam pernyataannya.
Rektor UNIMUS, Masrukhi, menyambut baik program ini sebagai sebuah terobosan yang sangat krusial bagi pengembangan lingkungan kampus. Ia menggarisbawahi bahwa dampak dari penanaman pohon ini memiliki dimensi spiritual yang mendalam serta prospek jangka panjang yang signifikan.
“Menanam pohon bukan sekadar upaya penghijauan, tetapi juga simbol menanam harapan bagi kehidupan di masa depan,” ujar Masrukhi, menekankan makna filosofis dari kegiatan ini.






