Teknologi Bioremediasi Bakteri dari Profesor ITS untuk Pemulihan Lingkungan Tercemar

Pendidikan8 Views

GueBerita.com – Pencemaran lingkungan yang terus meningkat hingga saat ini masih menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan ekosistem tanah, air, serta kualitas udara di berbagai penjuru dunia.

Menanggapi urgensi persoalan tersebut, seorang akademisi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Ipung Fitri Purwanti ST MT PhD, telah berhasil menciptakan terobosan teknologi bioremediasi yang berbasis pada aktivitas bakteri untuk mengatasi berbagai jenis kontaminan.

Prof. Ipung, yang merupakan Guru Besar ke-249 di ITS sekaligus pengajar di Departemen Teknik Lingkungan, menegaskan bahwa bioremediasi merupakan teknik restorasi lingkungan yang mengandalkan peran aktif mikroorganisme dalam menetralisir zat berbahaya.

Sepanjang karier profesionalnya yang telah merentang selama lebih dari 20 tahun dalam bidang remediasi lingkungan, beliau secara konsisten melakukan serangkaian riset mendalam. Fokus utama penelitian tersebut mencakup pemulihan kondisi tanah, air, hingga udara yang terdampak polusi, baik melalui penggunaan bakteri tunggal maupun bakteri yang menjalin simbiosis dengan tanaman.

Dalam memaparkan metodologi risetnya, Prof. Ipung menjelaskan bahwa langkah awal yang dilakukan adalah melakukan isolasi terhadap bakteri yang memang secara alami mampu bertahan hidup di kawasan dengan tingkat pencemaran tinggi.

Setelah proses isolasi berhasil dilakukan di laboratorium dan populasi bakteri tersebut dikembangkan, mikroorganisme ini kemudian diaplikasikan kembali ke area-area lain yang memiliki karakteristik pencemaran yang serupa untuk menguraikan polutan yang ada.

Menurut beliau, pendekatan ini dinilai jauh lebih efektif karena memanfaatkan mikroorganisme yang memang sudah memiliki kemampuan adaptasi alami terhadap lingkungan yang terkontaminasi oleh limbah.

Terdapat beberapa jenis bakteri spesifik yang digunakan dalam penelitian ini, di antaranya adalah Bacillus cereus, Bacillus subtilis, Pseudomonas aeruginosa, serta Staphylococcus gallinarum.

Di antara sekian banyak jenis bakteri yang diteliti, temuan mengenai Staphylococcus gallinarum mencuri perhatian khusus karena bakteri ini berhasil diisolasi langsung dari tanah yang terkontaminasi oleh limbah kerosin sisa proses pengolahan aspal.

Bakteri tersebut memiliki kemampuan resistensi dan degradasi yang lebih baik dibandingkan beberapa bakteri lain.

Karakteristik unik yang dimiliki oleh Staphylococcus gallinarum membuatnya menjadi kandidat yang sangat potensial dalam upaya pembersihan lingkungan secara biologis yang lebih efisien.

Selain berfokus pada penggunaan bakteri secara tunggal, Prof. Ipung yang juga merupakan alumnus S1 Teknik Lingkungan ITS ini turut mengembangkan metode konsorsium bakteri.

Metode ini dilakukan dengan cara mengombinasikan beberapa jenis bakteri sekaligus untuk melihat sejauh mana sinergi antar mikroorganisme tersebut dapat meningkatkan efektivitas proses remediasi secara keseluruhan.

Pengembangan teknologi ini diharapkan dapat menjadi solusi aplikatif bagi pemerintah maupun industri dalam menangani masalah limbah di masa depan.

Upaya yang dilakukan oleh Prof. Ipung ini membuktikan bahwa solusi berbasis alam atau nature-based solutions memiliki potensi besar dalam memperbaiki kondisi lingkungan yang telah rusak akibat aktivitas manusia.

Berikut adalah poin-poin utama terkait teknologi bioremediasi yang dikembangkan:

  • Pemanfaatan mikroorganisme asli dari lokasi tercemar untuk efisiensi adaptasi.
  • Penggunaan jenis bakteri unggulan seperti Bacillus cereus dan Staphylococcus gallinarum.
  • Penerapan metode konsorsium untuk memaksimalkan daya degradasi polutan.
  • Fokus pada pemulihan media lingkungan yang vital yakni tanah, air, dan udara.

Melalui riset berkelanjutan ini, diharapkan akan ada lebih banyak inovasi ramah lingkungan yang mampu menjawab tantangan degradasi ekosistem di Indonesia secara luas.