Lirboyo: Jantung Aswaja dan Wadah Kader Bangsa, Kandidat Kuat Tuan Rumah Muktamar NU 2026

Nasional3 Views

GueBerita.com – Pesantren Lirboyo kembali menjadi sorotan dalam wacana penyelenggaraan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).

Ahmad Shofwul Anam, yang akrab disapa Oful, menilai pesantren yang berdiri di Kota Kediri ini memiliki peran krusial dalam menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja).

Selain itu, Lirboyo juga dinilai berhasil melahirkan banyak kader bangsa yang berkiprah di tingkat nasional.

Menurut Oful, posisi Lirboyo tidak hanya penting dalam lintasan sejarah perjalanan NU, tetapi juga berperan sebagai penjaga nilai-nilai keislaman yang terus bertahan di tengah dinamika zaman.

Ia menggambarkan hubungan Lirboyo dan NU sebagai dua entitas yang saling terkait erat dan tak terpisahkan.

“Jika Nahdlatul Ulama adalah tubuh yang terus bergerak menjaga negeri, maka Lirboyo adalah denyut nadinya yang tak pernah berhenti,” tulis Oful dalam sebuah artikelnya.

“Lirboyo bukan sekadar lembaran sejarah; ia adalah penjaga gawang akidah, benteng terakhir yang memastikan Ahlussunnah wal Jama’ah tetap murni, tegak, dan relevan di tengah arus zaman yang kian deras,” lanjutnya.

Oful juga memberikan apresiasi tinggi terhadap kontribusi Lirboyo dalam mencetak sumber daya manusia yang memiliki peran signifikan di berbagai sektor kehidupan.

Banyak tokoh nasional yang lahir dari lingkungan pesantren tersebut dinilai membawa bekal ilmu pengetahuan dan akhlak yang kokoh untuk mengabdikan diri kepada masyarakat, bangsa, dan agama.

“Sudah berapa banyak kader nasional yang lahir dari rahim Lirboyo? Mereka yang kini memegang kendali di berbagai lini, yang menjadi kompas moral bagi umat, semuanya ditempa di bawah naungan ilmu dan adab yang diajarkan oleh para masyayikh Lirboyo,” ungkapnya.

“Di tempat inilah, kedalaman intelektual dan kelembutan akhlak disatukan,” tambahnya.

Dalam pandangannya, terdapat beberapa alasan kuat mengapa Pesantren Lirboyo dianggap sangat layak untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU.

Salah satu alasan utamanya adalah karena pesantren ini dinilai sebagai simbol penguatan ajaran Aswaja di tengah berbagai tantangan pemikiran yang terus berkembang di era modern ini.

“Di tengah tantangan pemikiran yang ingin menggeser nilai-nilai keislaman kita, menyelenggarakan Muktamar di Lirboyo adalah pernyataan sikap yang nyata,” tegas Oful.

“Kita membawa forum tertinggi ini pulang ke ‘kandang’ di mana Aswaja tidak hanya diajarkan, tetapi hidup dan dipraktikkan dalam setiap tarikan napas,” pungkasnya.