GueBerita.com – Aktris peraih Piala Citra, Adinia Wirasti, berbagi pandangan mendalam mengenai dunia akting dan kesehatan mental dalam sesi Expert Session bertajuk “The Mosaic of Emotions” di 5th Ciputra Film Festival (CFF) 2026. Acara ini diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra Surabaya.
Dalam forum tersebut, Adinia mengajak para peserta untuk memahami bahwa industri film tidak melulu tentang gemerlapnya, melainkan sebuah perjalanan emosional yang penuh dengan tantangan. Ia menekankan pentingnya keseimbangan dalam menghadapi dinamika tersebut.
Dengan gaya bicaranya yang hangat dan bersahaja, Adinia mengulas bagaimana seorang aktor dapat menjaga batasan yang jelas antara karakter yang diperankan dan kehidupan pribadinya. Hal ini krusial agar emosi yang terbangun selama proses syuting tidak terbawa ke kehidupan sehari-hari.
Ia memberikan contoh konkret dari pengalamannya di masa lalu. Adinia menggunakan objek sederhana seperti jaket sebagai “penanda” untuk membantunya masuk dan keluar dari karakter. Dengan cara ini, ia dapat melepaskan diri dari peran setelah syuting selesai, menjaga kesehatan mentalnya.
Seiring berjalannya waktu, Adinia mengaku semakin terbantu oleh dukungan lingkungan kerja yang kondusif dan kesadaran dirinya yang terus meningkat terkait pentingnya menjaga kesehatan mental. Ia menyadari bahwa kesejahteraan batin merupakan fondasi penting dalam berkarya.
Salah satu pesan paling kuat yang ia sampaikan kepada audiens adalah pentingnya menghindari overthinking saat bekerja di dunia seni peran. Menurut Adinia, momen-momen dalam sebuah adegan syuting seringkali tidak bisa diulang.
Oleh karena itu, seorang aktor dituntut untuk hadir sepenuhnya di setiap adegan yang dijalani. Fokus dan kehadiran penuh sangatlah penting untuk menghasilkan performa yang maksimal. Ini memerlukan latihan dan kesadaran diri yang terus-menerus.
Kunci untuk menjaga performa yang stabil dan optimal, kata Adinia, adalah dengan menemukan “sweet spot” atau keseimbangan yang tepat antara kesabaran dan kepasrahan. Ia menjelaskan bahwa ini bukan berarti pasif, melainkan kemampuan untuk melakukan yang terbaik saat bekerja.
Setelah mengerahkan segala upaya, penting untuk bisa melepaskan hasil kerja tersebut. “Kalau terlalu melekat, itu bisa jadi beban,” ujarnya. Keterikatan yang berlebihan pada hasil dapat menimbulkan kecemasan dan menghambat kreativitas.
Adinia juga membagikan refleksi mendalam mengenai perjalanan kariernya yang ia bagi dalam empat dekade. Ia mengibaratkan proses ini sebagai sebuah pembelajaran berkelanjutan. 10 tahun pertama ia dedikasikan untuk memahami seluk-beluk industri film.
Selanjutnya, 10 tahun kedua ia gunakan untuk terus belajar dan mengasah kemampuannya sebagai seorang aktris. Periode 10 tahun ketiga menjadi ajang untuk menguji dan menerapkan berbagai pengalaman yang telah didapat. Terakhir, di 10 tahun keempat, ia merasa siap untuk berbagi kembali ilmunya.
Lebih lanjut, Adinia menilai bahwa pencapaian terbesar dalam kariernya bukanlah sekadar penghargaan yang diterima. Baginya, kepuasan hakiki datang ketika karya film yang ia bintangi mampu memberikan dampak emosional yang mendalam bagi para penonton.
Hal ini menunjukkan bahwa seni peran yang ia lakukan berhasil menyentuh hati dan pikiran audiens, menciptakan koneksi yang berarti. Dampak emosional inilah yang menjadi motivasi terbesarnya.
Sesi bersama Adinia Wirasti ini menjadi salah satu puncak acara pada hari ketiga 5th CFF 2026. Festival ini tidak hanya menghadirkan sesi inspiratif seperti Expert Session, tetapi juga berbagai kegiatan kreatif lainnya. Di antaranya adalah workshop fotografi yang memberikan kesempatan untuk belajar teknik memotret.
Selain itu, terdapat pula forum komunitas yang menjadi wadah diskusi dan bertukar pikiran bagi para pegiat film. Puncak kemeriahan festival diakhiri dengan pemutaran film-film menarik di Open Air Cinema dan kompetisi film pendek yang menampilkan karya-karya sineas muda berbakat.






