GueBerita.com – Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menunjukkan kreativitasnya melalui Pawukon Jewelry Collection, sebuah inovasi koleksi perhiasan berupa kalung dan anting. Koleksi ini memadukan teknik material modern dengan nilai-nilai astrologi Jawa kuno yang dikenal sebagai Wuku.
Melalui karyanya ini, Bhirawa Kusuma Wijaya, seorang mahasiswa ITS, berhasil menghadirkan koleksi perhiasan premium. Koleksi tersebut mengambil inspirasi dari sistem penanggalan Jawa sebagai upaya untuk mengangkat identitas budaya lokal.
Awalnya, Pawukon Jewelry Collection merupakan bagian dari tugas kuliah. Bhirawa, yang merupakan mahasiswa Departemen Desain Produk Industri (Despro) ITS, menjelaskan bahwa koleksi ini lahir dari pendekatan metode material-driven design. Metode ini berfokus pada eksplorasi material sebagai sumber ide utama dalam perancangan.
Dalam proyek tersebut, setiap mahasiswa ditugaskan untuk melakukan riset eksplorasi dan eksperimen terhadap berbagai jenis material. Bhirawa kemudian memilih untuk mengeksplorasi teknik oksidasi. Teknik ini dipilihnya untuk menciptakan efek patina biru yang unik pada material tembaga.
Pemuda yang berasal dari Ponorogo ini mengungkapkan bahwa nama “Pawukon” sendiri diambil dari sistem penanggalan Jawa dan Bali kuno. Sistem ini hingga kini masih dikenal dan dipegang teguh oleh masyarakat setempat di beberapa daerah.
Menurut Bhirawa, tema Pawukon dipilih karena ia melihat bahwa sistem penanggalan Jawa kuno ini belum banyak diangkat dalam desain perhiasan modern. Ia merasa ada potensi besar untuk mengintegrasikan warisan budaya ini ke dalam produk kontemporer.
“Zodiak Barat sudah sering digunakan dalam perhiasan, sehingga kami mengangkat zodiak Jawa kuno asli Indonesia ke dalam bentuk perhiasan,” ujarnya, menekankan keunikan dan orisinalitas dari konsep yang diusungnya.
Lebih lanjut, mahasiswa yang akrab disapa Bhirawa ini memilih Wuku Watugunung sebagai inspirasi utama dalam inovasi perhiasan ini. Keputusan ini memiliki alasan personal yang kuat, yaitu karena wuku tersebut merupakan wuku kelahirannya sendiri.
“Koleksi ini mengusung konsep storytelling yang merepresentasikan karakter dan perjalanan hidup seseorang,” jelasnya lebih lanjut mengenai makna di balik setiap desain perhiasan yang diciptakannya.
Desain yang terinspirasi dari Wuku Watugunung ini memuat tiga elemen utama yang sarat makna. Ketiga elemen tersebut adalah Lakuning Rembulan, bunga Wijaya Kusuma, dan Sang Hyang Antaboga.
Lakuning Rembulan digambarkan untuk merepresentasikan pribadi yang mudah berbaur dengan lingkungan sosial dan mampu membawa kebahagiaan bagi orang di sekitarnya. Sementara itu, bunga Wijaya Kusuma dipilih untuk melambangkan proses pertumbuhan dan perkembangan diri seseorang seiring berjalannya waktu.
Baca juga: Megawati Pertimbangkan Pindah Klub di V-League 2026/2027
Elemen terakhir, Sang Hyang Antaboga, dihadirkan dalam bentuk naga. Bentuk naga ini dipilih untuk merepresentasikan semangat yang membara terhadap inovasi, kreativitas, dan dunia seni, sejalan dengan latar belakang pendidikan Bhirawa di bidang desain.






