GueBerita.com – Sebagian besar masyarakat Indonesia pasti tidak asing dengan keberadaan bekas luka parut berbentuk bulat di lengan atas mereka, tanda permanen ini umumnya berasal dari suntikan imunisasi yang diterima saat masih bayi atau anak-anak.
Melalui edukasi di media sosial, dokter sekaligus edukator kesehatan dr. Adam Prabata memaparkan alasan ilmiah di balik munculnya jaringan parut tersebut, yang ternyata menjadi indikator keberhasilan sistem imun manusia.
Dokter Adam menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama munculnya bekas luka tersebut adalah vaksin cacar (smallpox). Cacar jenis ini merupakan penyakit infeksi mematikan di masa lalu yang memiliki angka kematian sangat tinggi, yakni mencapai 30 persen.
Baca juga: Manfaat Makan Semangka Sebelum Tidur: Kesehatan dan Risiko Gangguan Tidur
Kendati demikian, berkat kesuksesan program imunisasi massal global, penyakit ini kini telah dinyatakan musnah sepenuhnya dari muka bumi.
“Ini adalah bekas vaksin cacar smallpox, penyakit yang sudah tidak ada lagi di dunia ini dan menunjukkan keberhasilan vaksinasi,” tulis dr. Adam Prabata dalam unggahannya. Karena penyakitnya sudah berhasil dieradikasi total, generasi saat ini sudah tidak lagi menerima suntikan vaksin smallpox.
Lebih lanjut, dr. Adam menyebutkan ada jenis imunisasi lain yang masih aktif diberikan hingga hari ini dan meninggalkan bekas serupa, yaitu vaksin BCG (Bacillus Calmette–Guérin). Vaksin BCG disuntikan untuk melindungi tubuh dari penyakit Tuberkulosis (TB).
Ia pun mengajak masyarakat untuk memeriksa lengan mereka sendiri untuk memastikan keberadaan tanda pelindung tersebut. “Satu vaksinasi lagi yang bisa memunculkan bekas luka seperti ini adalah vaksinasi BCG untuk mencegah TB, coba deh cek bagian atas lengan kanan kalian ada bekas seperti itu atau tidak, biasanya disuntikkan di sana,” tambah dr. Adam.
Dari sudut pandang medis, pembentukan jaringan parut ini bukanlah sebuah kegagalan produk, melainkan respons alami tubuh yang sedang bekerja melawan antigen. Ketika komponen vaksin masuk, sel-sel imunitas tubuh akan berbondong-bondong menuju area kulit tersebut (infiltrasi sel imun) untuk menghancurkan sel yang terinfeksi.
Proses perlawanan ini secara alami merusak lapisan kulit luar. Sebagai bentuk pemulihan, tubuh kemudian memproduksi jaringan parut untuk ‘menambal’ kerusakan itu, sehingga menyisakan tanda khas yang bertahan seumur hidup.






