GueBerita.com – Tren berolahraga di malam hari semakin populer, terutama di kalangan masyarakat perkotaan yang memiliki jadwal padat. Namun, muncul kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap hormon kortisol, yang berkaitan dengan stres, dan kesehatan otak.
Dokter dan edukator kesehatan, dr. Adam Prabata, memberikan klarifikasi melalui akun Twitter-nya untuk meluruskan miskonsepsi yang beredar. Ia menjelaskan bahwa aktivitas fisik di malam hari memang dapat memicu lonjakan jangka pendek hormon kortisol.
“Olahraga malam hari memang bisa meningkatkan kadar kortisol, yang merupakan respons stres. Kortisol merupakan hormon yang diketahui berhubungan dengan peningkatan tekanan darah, berat badan, dan resistensi insulin,” jelas dr. Adam Prabata.
Baca juga: Penyebab Medis Sering Terbangun di Malam Hari, Mulai dari Masalah Jantung hingga GERD
Meskipun kadar kortisol meningkat sesaat setelah berolahraga, dr. Adam menekankan bahwa efek jangka panjang dari olahraga rutin justru sebaliknya. Tubuh memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa.
Jika olahraga dilakukan secara konsisten, sistem pengaturan hormon tubuh akan membaik. Hal ini justru akan menurunkan kadar kortisol secara keseluruhan dan membuatnya lebih stabil.
Selain itu, dr. Adam membantah anggapan bahwa olahraga malam dapat mengecilkan volume otak akibat paparan kortisol. Ia meluruskan bahwa penyusutan area otak hanya terjadi pada kondisi medis ekstrem, bukan akibat olahraga malam yang sehat.
“Kortisol memang bisa ‘mengecilkan’ area di otak, namun itu terjadi pada kondisi stress kronis atau penyakit seperti Cushing’s syndrome, bukan olahraga malam. Bahkan olahraga itu secara umum, termasuk malam hari, justru melindungi otak, antara lain meningkatkan kemampuan otak untuk berkembang dan menurunkan peradangan di area otak,” tambah dr. Adam Prabata.
Penjelasan ini diharapkan dapat menghilangkan keraguan masyarakat untuk tetap beraktivitas fisik di malam hari. Selama dilakukan dengan porsi yang tepat dan teratur, olahraga malam hari tetap memberikan perlindungan signifikan bagi kesehatan organ tubuh.
Manfaatnya termasuk menjaga fungsi kognitif dan kesehatan otak dari risiko peradangan. Dengan demikian, masyarakat dapat lebih percaya diri untuk tetap aktif bergerak demi kesehatan mereka.






