GueBerita.com – Sejumlah dosen dan mahasiswa dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIM) Tulungagung telah menyelenggarakan kegiatan nonton bareng dan diskusi film berjudul “Pesta Babi” di lingkungan kampus. Inisiatif ini merupakan bagian dari agenda akademik yang dilaksanakan di tengah adanya perbedaan sikap dari beberapa perguruan tinggi lain terkait pemutaran film yang sama.
Acara nonton bareng dan diskusi Film “Pesta Babi” ini berlangsung pada hari Jumat, tanggal 22 Mei tahun 2026, bertempat di Aula STAIM Tulungagung. Kegiatan ini dihadiri oleh para dosen serta puluhan mahasiswa yang antusias mengikuti jalannya acara.
Informasi mengenai penyelenggaraan kegiatan ini pertama kali mencuat melalui unggahan di akun Instagram dengan nama pengguna @kabar_tulungagung. Unggahan tersebut secara khusus menyoroti pelaksanaan diskusi film yang disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono di dalam lingkungan akademik STAIM Tulungagung.
Menanggapi penyelenggaraan kegiatan tersebut, Ketua STAIM Tulungagung, Suripto, menegaskan bahwa acara ini merupakan manifestasi dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Ia merinci bahwa Tri Dharma mencakup tiga pilar utama, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, yang semuanya tertuang dalam kegiatan ini.
Suripto lebih lanjut menjelaskan bahwa tradisi menonton dan mendiskusikan film di lingkungan akademik telah lama menjadi bagian dari budaya kampus. Tujuannya adalah untuk senantiasa membangun dan mengasah cara berpikir yang rasional serta kritis di kalangan sivitas akademika.
Menurut pandangannya, perbedaan pandangan atau interpretasi terhadap sebuah karya seni, seperti Film “Pesta Babi”, adalah hal yang lumrah dan merupakan bagian dari kekayaan perspektif. Keragaman ini sangat wajar terjadi dalam sebuah forum diskusi akademik yang sehat.
Baca juga: Inovasi Produk Unggulan TP PKK Kota Madiun Dibidik dalam Ladies Program APEKSI 2026 di Denpasar
Lebih lanjut, Suripto menekankan bahwa di lingkungan perguruan tinggi, gagasan dan ide seharusnya dapat diperdebatkan secara terbuka. Hal ini penting untuk menggali dan memahami substansi pemikiran yang coba diangkat oleh sebuah karya atau gagasan.
Ia juga menyoroti betapa krusialnya kebebasan akademik dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan di kampus. Kebebasan ini mencakup keleluasaan dalam pelaksanaan diskusi, pemutaran film, dan berbagai bentuk kegiatan akademik lainnya.
Dalam keterangannya, Suripto menyampaikan rasa kekecewaannya apabila ada institusi perguruan tinggi yang mengambil langkah untuk melarang kegiatan diskusi atau pemutaran film di lingkungan akademik mereka.
Ia secara spesifik menyebutkan bahwa Film “Pesta Babi” merupakan sebuah karya yang berani mengangkat isu-isu kritik sosial yang relevan dengan kondisi di Indonesia. Salah satu isu penting yang disorot dalam film ini adalah persoalan penyerobotan tanah adat yang terjadi di wilayah Papua.
Diskusi yang mengiringi pemutaran film ini juga memberikan sorotan mendalam terhadap dampak dari eksploitasi hutan. Dampak tersebut dikaitkan secara langsung dengan berbagai proyek strategis nasional yang berpotensi mengganggu ruang hidup masyarakat adat di Papua.






