GueBerita.com – Pemadaman listrik berskala besar atau blackout yang melanda beberapa wilayah di Sumatera telah menimbulkan kritik tajam terhadap kinerja PT PLN (Persero).
Gangguan pasokan listrik ini dilaporkan meluas dan memengaruhi berbagai daerah, termasuk Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Kepulauan Riau, Batam, Riau, Aceh, Jambi, dan Lampung.
Salah satu pihak yang secara vokal menyuarakan kekecewaannya adalah kelompok masyarakat yang menamakan diri Jaringan Pergerakan Masyarakat Bawah atau Jaga Marwah.
Ketua Umum Jaga Marwah, Edison Tamba, melontarkan kritik langsung kepada kepemimpinan Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, terkait insiden blackout tersebut.
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis di Jakarta pada hari Minggu, 24 Mei 2026, Edison menekankan bahwa PLN seharusnya tidak hanya berhenti pada permintaan maaf kepada masyarakat yang terdampak.
Ia mendesak agar PLN segera memberikan kompensasi yang layak kepada seluruh masyarakat serta pelaku usaha yang menderita kerugian akibat terganggunya pasokan listrik secara massal ini.
Lebih lanjut, Edison juga menyinggung adanya informasi yang beredar mengenai kondisi keuangan PLN pada tahun 2025, yang disebut-sebut mengalami defisit kerugian hingga mencapai Rp4,3 triliun.
Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak PLN terkait kebenaran klaim tersebut, maupun penjelasan mendalam mengenai narasi yang beredar di kalangan internal perusahaan.
Edison turut mengungkapkan adanya kegelisahan yang dirasakan di lingkungan internal PLN mengenai kondisi perusahaan. Ia menyebutkan adanya isu terkait pengendalian anggaran yang santer terdengar di kalangan para pegawai.
Baca juga: Indonesia Perkuat Komitmen Konservasi Keanekaragaman Hayati Menjelang COP-17 CBD
Sementara itu, insiden blackout yang menyentuh berbagai provinsi di Sumatera ini terus menjadi sorotan publik. Dampaknya terasa signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat dan roda perekonomian di berbagai sektor.






