Candi Tegowangi Jadi Simbol Harmoni Jawa-Bali, Mas Dhito Pererat Toleransi Melalui Pentas Budaya

Nasional5 Views

GueBerita.com – Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, atau yang akrab disapa Mas Dhito, hadir secara langsung dalam pagelaran Sastra Saraswati Sewana Yatra 2026 yang berlangsung di pelataran Candi Tegowangi, Kabupaten Kediri, pada Rabu (15/7) malam.

Kegiatan yang memadukan elemen kebudayaan dan spiritualitas ini merupakan bagian dari rangkaian perjalanan panjang yang menghubungkan lima lokasi sakral di Pulau Jawa. Rangkaian ini menjadi manifestasi nyata dari pasabhan, sebuah konsep pertemuan budaya yang mempertautkan tradisi Jawa dan Bali dalam satu kesatuan harmonis.

Candi Tegowangi sendiri terpilih menjadi titik persinggahan ketiga dalam agenda perjalanan ini. Sebelumnya, rombongan telah mengunjungi wilayah Banyuwangi serta Kota Batu, Malang, untuk menyebarkan pesan kebudayaan yang serupa.

Dalam setiap lokasi yang disinggahi, masyarakat setempat disuguhi pertunjukan seni yang mendalam. Penampilan utama meliputi Topeng Sakral Sri Aji Dalem Jawi serta pementasan Wayang Wong Tantri Nandaka Harana yang penuh dengan muatan nilai-nilai luhur dari para leluhur nusantara.

Mas Dhito menegaskan bahwa pagelaran yang diinisiasi oleh Yayasan Puri Kasihan Ubud tersebut memiliki kedalaman makna spiritual yang sangat berarti bagi umat Hindu. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Kediri memberikan dukungan penuh agar acara ini dapat berjalan dengan khidmat dan lancar.

Dukungan tersebut diberikan melalui sinergi antara pemerintah daerah dengan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Kediri. Kolaborasi ini dilakukan sebagai bentuk komitmen nyata dalam memfasilitasi kegiatan yang memperkuat ikatan antarumat beragama.

“Tentunya ini bagian dari menjaga toleransi antar umat beragama,” ujar Mas Dhito di sela-sela kehadirannya pada Rabu (15/7) malam tersebut.

Lebih lanjut, Mas Dhito menjelaskan bahwa pertunjukan seni yang disajikan bukan sekadar tontonan hiburan semata. Lebih dari itu, seni tersebut membawa pesan moral yang sangat penting mengenai urgensi menjaga persatuan di tengah masyarakat yang majemuk.

Ia menekankan bahwa nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur harus dijadikan pengingat bagi generasi saat ini. Keberagaman yang ada bukanlah sebuah pemisah, melainkan kekuatan besar yang mampu menyatukan seluruh elemen masyarakat dalam bingkai persaudaraan.

Sebagai contoh, Mas Dhito merujuk pada pertunjukan Topeng Sakral Sri Aji Dalem Jawi yang dipentaskan. Karya seni tersebut secara visual dan naratif menggambarkan visi besar para leluhur terdahulu dalam upaya membangun persatuan di seluruh wilayah Nusantara.

Kehadiran pagelaran budaya ini di kawasan Candi Tegowangi juga memberikan dampak positif bagi interaksi sosial. Acara ini berhasil menjadi ruang temu bagi masyarakat dari berbagai latar belakang, baik dari segi perbedaan generasi maupun perbedaan keyakinan agama.

Beberapa poin utama dari penyelenggaraan kegiatan ini antara lain:

  • Menjaga keberlangsungan warisan budaya leluhur melalui pertunjukan seni sakral.
  • Mempererat hubungan silaturahmi antara komunitas budaya Jawa dan Bali.
  • Menjadikan Candi Tegowangi sebagai pusat edukasi sejarah dan toleransi.
  • Mendorong sinergi antara pemerintah daerah dan organisasi keagamaan dalam menjaga kerukunan.

Melalui rangkaian Sastra Saraswati Sewana Yatra 2026, diharapkan pesan mengenai pentingnya toleransi dapat terus bergema. Pemerintah Kabupaten Kediri berkomitmen untuk terus mendukung pelestarian nilai budaya yang memiliki misi kemanusiaan dan perdamaian di masa depan.

Kegiatan yang berlangsung di bawah naungan suasana Candi Tegowangi yang bersejarah ini menutup malam dengan kesan mendalam bagi para penonton. Keberhasilan acara ini menjadi bukti bahwa identitas budaya adalah jembatan paling efektif untuk menyatukan perbedaan di tengah masyarakat.