GueBerita.com – Pemahaman mendalam mengenai awal mula alam semesta kembali menjadi subjek perdebatan hangat, kali ini dipicu oleh gagasan revolusioner dari seorang fisikawan terkemuka.
Roger Penrose, seorang fisikawan peraih Nobel yang diakui secara global, mengajukan sebuah konsep yang menantang pandangan umum tentang Big Bang. Ia berpendapat bahwa peristiwa yang selama ini dianggap sebagai titik awal tunggal dari segala sesuatu, mungkin sebenarnya hanyalah sebuah fase dalam siklus kosmik yang tak pernah berakhir.
Berdasarkan informasi yang diunggah di Instagram mediastory.id dan dikutip pada tanggal 28 Mei 2026, Penrose, yang berbicara dari sebuah observatorium, menyampaikan pandangannya bahwa Big Bang bukanlah awal absolut dari alam semesta.
Teorinya, yang dikenal dengan nama Kosmologi Siklik Konformal (Conformal Cyclic Cosmology – CCC), mengusulkan sebuah skenario di mana alam semesta kita saat ini bukanlah entitas tunggal yang muncul dari ketiadaan. Sebaliknya, ia merupakan bagian dari sebuah rangkaian tak berujung dari alam semesta-alam semesta yang saling mendahului.
Dalam kerangka teori ini, “akhir” atau “kematian” dari alam semesta yang ada sebelum alam semesta kita, secara paradoks, menjadi katalisator bagi kelahiran alam semesta kita melalui peristiwa yang kita kenal sebagai Big Bang.
Baca juga: Capybara Muda Alami Patah Tulang Kaki, Dirawat Pakai Gips
Penrose tidak melihat Big Bang sebagai permulaan waktu dan ruang yang definitif. Ia lebih meyakini bahwa alam semesta secara inheren mengalami sebuah siklus abadi, yang terdiri dari periode kehancuran total diikuti oleh kelahiran kembali yang baru.
Konsep ini secara fundamental berbeda dari model kosmologi standar yang selama ini mendominasi pemikiran ilmiah, di mana Big Bang diposisikan sebagai momen singular yang menandai dimulainya waktu dan ruang itu sendiri.
Jika teori Kosmologi Siklik Konformal ini terbukti benar, maka alam semesta yang kita tinggali saat ini hanyalah satu episode dalam sebuah narasi kosmik yang jauh lebih luas dan berulang. Ini berarti, sebelum alam semesta kita, telah ada alam semesta lain yang mengalami kehancuran, dan setelah alam semesta kita, akan ada alam semesta baru yang lahir.
Gagasan Penrose ini tidak hanya memicu diskusi akademis, tetapi juga mendorong para ilmuwan untuk mencari bukti-bukti empiris yang dapat mendukung atau menyanggah teorinya. Salah satu area pencarian adalah melalui analisis radiasi latar kosmik (cosmic microwave background radiation) dan studi mendalam mengenai struktur skala besar langit, yang mungkin menyimpan jejak-jejak dari alam semesta sebelumnya.
Meskipun teori Kosmologi Siklik Konformal masih menjadi subjek perdebatan intens di kalangan komunitas ilmiah dan memerlukan lebih banyak bukti untuk dikonfirmasi, ia menawarkan sebuah perspektif yang sangat menarik dan berbeda mengenai asal-usul, evolusi, dan nasib akhir alam semesta kita. Teori ini membuka cakrawala baru dalam upaya kita memahami tempat kita di alam semesta yang luas ini. (*)






