Survei TODAY Moms, Banyak Istri Merasa Suami Lebih Memicu Stres Ketimbang Anak Sendiri

Lifestyle9 Views

GueBerita.com – Sebuah survei terbaru yang dirilis oleh TODAY Moms mengungkap temuan mengejutkan mengenai sumber stres utama bagi para ibu di Amerika Serikat.

Mengasuh dan membesarkan anak-anak seringkali diasosiasikan sebagai sumber kelelahan dan stres terbesar bagi seorang ibu. Namun, hasil penelitian ini justru menunjukkan gambaran yang berbeda dan mungkin tidak disangka-sangka.

Faktanya, mayoritas ibu yang disurvei mengaku bahwa mereka justru merasa jauh lebih tertekan dan stres ketika berhadapan dengan perilaku pasangan mereka sendiri dibandingkan dengan tuntutan mengurus anak-anak.

Survei yang melibatkan lebih dari 7.000 ibu di Amerika Serikat ini berhasil mengidentifikasi bahwa sekitar 46% dari seluruh sumber stres yang dialami ibu dalam lingkup keluarga mereka ternyata berasal dari suami.

Angka ini cukup signifikan, menunjukkan bahwa beban mental yang dirasakan istri tidak melulu datang dari anak-anak yang masih kecil.

Lebih lanjut, survei ini mengungkapkan bahwa banyak ibu yang melaporkan tingkat stres harian mereka berada pada skala yang sangat tinggi, rata-rata mencapai 8,5 dari skala maksimal 10.

Tingkat stres yang mengkhawatirkan ini ternyata memiliki akar permasalahan yang mendalam, terutama terkait dengan distribusi beban pikiran atau mental load yang tidak merata dalam rumah tangga.

Banyak istri merasa terkuras secara mental karena harus memikul tanggung jawab untuk mengatur hampir seluruh aspek kehidupan domestik sendirian.

Hal ini diperparah dengan minimnya inisiatif atau kontribusi dari pihak suami dalam urusan rumah tangga sehari-hari.

Baca juga: Dorong Integrasi Program APBD dan Non-APBD Hadapi Geopolitik

Berbeda dengan anak-anak yang tuntutannya cenderung jelas dan sesuai dengan tahapan perkembangan usia mereka, pasangan dewasa terkadang memberikan beban yang lebih kompleks dan tidak terlihat.

Ini terjadi ketika suami berperilaku seperti “anak besar” yang membutuhkan perhatian dan arahan terus-menerus, sehingga menambah beban mental bagi istri.

Para ahli psikologi dan hubungan keluarga menyarankan beberapa strategi untuk mengatasi fenomena ini dan memelihara keharmonisan dalam pernikahan.

Salah satu kunci utamanya adalah dengan menurunkan ekspektasi yang mungkin terlalu tinggi terhadap peran suami dalam urusan domestik.

Membangun komunikasi yang lebih terbuka dan jujur mengenai perasaan serta beban yang dirasakan juga menjadi sangat penting.

Selain itu, pembagian tugas rumah tangga yang adil dan seimbang antara suami dan istri merupakan fondasi krusial untuk mengurangi mental load pada satu pihak.

Idealnya, sebuah pernikahan yang sehat seharusnya menjadi tempat yang aman untuk bersandar, saling mendukung, dan berbagi beban.

Bukan justru menjadi sumber stres tambahan yang menguras energi emosional dan mental sang istri.

Dengan upaya bersama dan pemahaman yang lebih baik, diharapkan hubungan pernikahan dapat kembali menjadi sumber kekuatan dan kebahagiaan bagi kedua belah pihak.