GueBerita.com – Lumpur Lapindo, bencana ekologis yang melanda Sidoarjo, telah memasuki tahun ke-20 pada 29 Mei lalu. Selama dua dekade ini, penanganan lumpur melalui pengaliran ke Sungai Porong terus berlangsung, mengubah karakteristik lingkungan secara drastis, khususnya ekosistem di sekitarnya.
Menyoroti persoalan ini, Prof. Dr. Dewi Hidayati, S.Si., M.Si., seorang pakar ekotoksikologi dan fisiologi hewan dari Departemen Biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), mengemukakan pentingnya kajian kelayakan ekologis berbasis indikator biologis pada ikan untuk mitigasi jangka panjang.
Sebagai Guru Besar ke-166 ITS, Prof. Dewi menjelaskan bahwa Sungai Porong kini menerima beban efluen material padat dalam jumlah masif tanpa melalui proses pengolahan. Aliran lumpur yang pekat, didominasi oleh tanah liat halus, secara perlahan mengubur dasar sungai yang semula berpasir dan berbatu, mengubahnya menjadi hamparan lumpur.
Baca juga: WFH ASN Pemprov Jatim Dipindah ke Hari Jumat
“Sedimentasi masif ini memicu lonjakan kekeruhan air atau Total Suspended Solids (TSS) secara ekstrem di sepanjang aliran sungai dan perubahan komposisi substrat secara nyata,” ujar Prof. Dewi.
Kandungan material lumpur yang tinggi dalam air secara langsung mengancam kelangsungan hidup biota air, terutama melalui kegagalan fungsi insang. Analisis mikroskopik menunjukkan bahwa partikel halus berukuran kurang dari 10 mikron menempel erat dan menyumbat filamen insang ikan.
“Paparan ini memicu kerusakan jaringan insang yang parah, seperti hiperplasia dan nekrosis sel,” jelasnya lebih lanjut.
Dampak negatif kontaminan lumpur tidak berhenti pada insang. Organisme air juga mengalami kerusakan pada struktur pelindung luarnya. Dengan menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM), Prof. Dewi menemukan adanya kerusakan pada mikrostruktur sisik ikan.






