Api Dharma Mrapen Kirab Menuju Borobudur Sambut Waisak 2026

Nasional16 Views

GueBerita.com – Puncak Perayaan Hari Raya Waisak 2569 BE atau 2026 Masehi telah resmi dimulai pada Jumat, 29 Mei 2026. Perayaan ini diawali dengan penyulutan obor Api Dharma dari sumber api alam abadi yang berlokasi di Mrapen, Grobogan, Jawa Tengah.

Api suci yang disulut ini memiliki makna mendalam. Api tersebut akan dibawa dalam sebuah kirab menuju Candi Mendut dan Candi Borobudur. Perjalanan ini melambangkan penerangan batin bagi seluruh umat Buddha yang merayakannya.

Sebelum prosesi pengambilan Api Dharma dilaksanakan, serangkaian kegiatan spiritual telah dilakukan. Di antaranya adalah penyalaan lilin panca warna yang memiliki makna simbolis tersendiri. Selain itu, dilakukan pula pembacaan paritta suci yang dipimpin oleh perwakilan dari berbagai majelis agama Buddha.

Majelis-majelis yang berpartisipasi dalam pembacaan paritta suci meliputi Sangha Theravada Dhamayut Indonesia, Majelis Buddhayana Indonesia (MBMI), Palpung, Zhenfo Zong Kasogatan (ZFZ Kasogatan), Sangha Mahayana Indonesia, dan Martrisia. Keikutsertaan berbagai majelis ini menunjukkan keragaman dalam tradisi Buddhis yang tetap bersatu dalam perayaan Waisak.

Prosesi pengambilan api suci itu sendiri dilakukan tepat pada pukul 12.00 WIB. Pengambilan api ini dipimpin oleh para bhikkhu sangha yang merupakan perwakilan dari beberapa majelis agama Buddha. Selain itu, turut hadir pula perwakilan dari TNI, Polri, serta berbagai instansi terkait lainnya yang menunjukkan dukungan terhadap perayaan ini.

Setelah api abadi berhasil diambil, api tersebut kemudian disulut ke sebuah obor. Obor ini selanjutnya dibawa menuju mobil pick up yang telah disiapkan di area kompleks wisata Api Abadi Mrapen. Mobil pick up ini akan menjadi kendaraan untuk membawa api suci dalam kirab.

Tidak hanya disulut ke obor biasa, api tersebut juga disulut ke sebuah obor besar yang disebut angklu. Obor angklu ini diapit dengan megah oleh dua Bendera Merah Putih dan dua Bendera Buddhis. Penggunaan bendera-bendera ini menegaskan bahwa perayaan Waisak juga merupakan bagian dari identitas kebangsaan Indonesia.

Dengan pengawalan ketat dari mobil polisi, rombongan yang membawa api suci kemudian memulai perjalanannya. Tujuan pertama kirab api ini adalah Candi Mendut. Perjalanan ini dilakukan dengan penuh penghormatan dan khidmat.

Menurut Pandita Dharmaduta Suyamto, yang merupakan perwakilan dari Majelis Agama Buddha Tantrayana Zhenfo Zong Kasogatan Indonesia (ZFZ Kasogatan), Api Dharma ini memiliki makna spiritual yang sangat dalam bagi umat Buddha. Api ini diyakini sebagai api alam yang berasal dari dalam perut bumi, yang keluar mengikuti aliran gas bumi.

Fenomena geologi unik dari Api Abadi Mrapen ini telah dikenal sejak lama. Sumber api alami ini memunculkan lidah api yang terus menyala dari dalam tanah. Keberadaannya menjadi daya tarik sekaligus objek sakral.

Bagi umat Buddha, api ini bukan sekadar fenomena alam biasa. Api tersebut dimaknai secara mendalam sebagai simbol penerangan. Api melambangkan kebijaksanaan yang dapat mencerahkan kegelapan batin, serta menjadi simbol awal kehidupan yang disucikan untuk berbagai ritual keagamaan.

Baca juga: Program Percontohan Kopi-Kakao Ditargetkan Tingkatkan Ekspor Hingga 2045

Penyalaan lilin panca warna dan pembacaan paritta dari berbagai majelis agama Buddha ini secara kuat menegaskan semangat ekayāna atau kesatuan. Meskipun tradisi dan praktik keagamaan yang dijalankan oleh setiap majelis mungkin berbeda, namun tujuan akhir untuk mencapai pembebasan atau pencerahan tetap sama. Kolaborasi yang terjalin antara sangha, TNI, Polri, dan berbagai instansi pemerintah ini juga semakin menunjukkan bahwa perayaan Waisak adalah sebuah perayaan kebangsaan yang mempersatukan.