GueBerita.com – Pesantren modern kini tak hanya mengejar prestasi akademik dan hafalan, tapi juga kesehatan mental santri.
Dua pesantren di Riau dan Sumatera Barat membagikan pendekatan yang menempatkan pengasuh dan guru sebagai garda terdepan perlindungan psikologis, sekaligus mencegah perundungan di lingkungan asrama.
Di bawah pengawasan Yayasan Nur Iman, pesantren modern berbasis boarding school ini menempatkan guru agama dan pengasuh sebagai lini pertama perlindungan kesehatan mental santri.
Pendekatan yang diterapkan berfokus pada bimbingan emosional berbasis nilai-nilai Islam, penguatan relasi yang suportif antara pengasuh dan santri, serta deteksi dini terhadap perubahan perilaku maupun tekanan psikologis yang dialami santri.
“Melalui sistem pengawasan dan pendampingan yang intensif, pesantren berupaya menciptakan lingkungan asrama yang aman dan penuh empati bagi para peserta didik,” sebut Basnang pada Jumat, 29 Mei 2026.
Sementara itu, Perguruan Islam Ar Risalah Padang, Sumatera Barat, menghadirkan sistem penanganan luka psikologis yang komprehensif melalui pendekatan psikososial, spiritual, dan penguatan sistem asrama.
Pesantren yang pernah meraih penghargaan Pesantren Ramah Anak Terbaik se-Sumatera Barat tersebut menyediakan layanan bimbingan konseling rutin melalui tim konselor dan pembina asrama (musyrif/musyrifah) yang telah mendapatkan pelatihan khusus.
Pendekatan spiritual atau tarbiyah ruhiyah dilakukan melalui pembiasaan salat berjamaah, zikir, muhasabah, dan pembinaan karakter untuk membantu pemulihan luka batin santri.
Selain itu, program mentoring kelompok kecil rutin dilaksanakan sebagai sarana pemantauan adaptasi santri, pengelolaan stres, sekaligus membangun dukungan sosial antarteman.
“Ar Risalah juga menerapkan pola pengawasan humanis berbasis sistem boarding untuk mencegah perundungan dan menciptakan ruang tumbuh yang aman, nyaman, dan sehat secara emosional,” tutur Basnang.
Baca juga: Oknum Pimpinan Ponpes di Pekalongan Diduga Cabuli Santriwati, Diamankan Polisi
Model Dar El Hikmah menekankan peran pengasuh sebagai “radar” pertama.






