GueBerita.com – Proses seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat Provinsi Sulawesi Selatan untuk tahun 2026 tengah menjadi perbincangan hangat di ranah publik, khususnya di platform media sosial.
Munculnya polemik ini berawal dari sorotan publik terhadap nama Cathlyn Yvaine Lesmana, seorang siswi kelas XI dari SMAS Cerdas Bangsa, yang hasil seleksinya menuju tingkat nasional menjadi topik perbincangan.
Cathlyn dikabarkan tidak berhasil lolos ke tahap nasional meskipun ia telah meraih nilai seleksi yang sangat tinggi. Hal ini menimbulkan pertanyaan dan kegelisahan di kalangan masyarakat yang mengikuti perkembangan seleksi tersebut.
Informasi mengenai ketidaklolosan Cathlyn ini pertama kali menyebar luas dan menjadi viral melalui sebuah unggahan di akun TikTok dengan nama pengguna @friska_32. Unggahan tersebut secara spesifik mempertanyakan hasil penentuan peserta yang terpilih untuk mewakili provinsi.
Baca juga: Kecelakaan Veda Ega Pratama di Moto3 Amerika Membuatnya Kehilangan Posisi Keempat
Lebih lanjut, dalam unggahan yang sama disebutkan bahwa posisi Cathlyn yang seharusnya maju ke tingkat nasional kemudian digantikan oleh peserta lain yang berasal dari Kabupaten Jeneponto. Penggantian ini menjadi salah satu poin utama yang memicu kontroversi dan berbagai spekulasi.
Kontroversi yang berkembang ini sontak memicu beragam reaksi dan tanggapan dari berbagai pihak di media sosial. Berbagai isu mulai diangkat, termasuk dugaan adanya unsur diskriminasi, praktik rasisme, hingga tudingan adanya peserta titipan dalam keseluruhan proses seleksi Paskibraka tersebut.
Perhatian terhadap kasus ini tidak hanya datang dari masyarakat umum, tetapi juga dari sejumlah organisasi yang memiliki kaitan erat dengan dunia paskibraka. Keberadaan mereka menunjukkan betapa seriusnya persoalan ini ditanggapi oleh komunitas terkait.
Organisasi seperti Duta Pancasila Paskibraka Indonesia (DPPI) dan Purna Paskibraka Indonesia (PPI) dilaporkan turut memberikan pandangan dan kritik mereka terhadap polemik yang tengah berkembang ini. Keterlibatan mereka menambah bobot pada diskusi dan upaya pencarian kejelasan.
Di tengah badai kontroversi yang melanda, profil pribadi Cathlyn Yvaine Lesmana justru semakin menarik perhatian publik. Hal ini disebabkan oleh deretan prestasi akademik dan nonakademik yang berhasil ia raih sepanjang perjalanan pendidikannya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari DPPI Kota Makassar, Cathlyn memiliki keunggulan dalam penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Mandarin dan bahasa Inggris. Kemampuan multibahasanya ini menjadi salah satu aset berharga yang ia miliki.
Kemampuan berbahasa Mandarin yang mumpuni tersebut terbukti membawa Cathlyn meraih sebuah pencapaian membanggakan. Ia berhasil meraih medali perunggu dalam ajang Mandarin Proficiency Championship Indonesia 2025.
Prestasi tersebut diraihnya pada level 3 untuk kategori Olimpiade Sekolah Menengah Atas (Senior High School Olympiad), menunjukkan kompetensinya yang tidak main-main di tingkat nasional dalam bidang bahasa.






