IDAI Tyor Kritik Pembagian Susu Formula dalam Program Makan Gratis, Ingatkan Risiko ASI Eksklusif Gagal

Nasional22 Views

GueBerita.com – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah menyuarakan kritik tajam terhadap petunjuk teknis (juknis) program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kritik ini muncul karena program tersebut dinilai memfasilitasi pembagian susu formula untuk bayi tanpa adanya indikasi medis yang ketat.

Menurut IDAI, langkah ini berpotensi mengganggu keberhasilan program ASI eksklusif di Indonesia. Kebijakan ini juga berisiko mengalihkan penggunaan pangan lokal yang selama ini menjadi pilar utama dalam penanggulangan stunting berdasarkan bukti ilmiah.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr.dr. Piprim, menegaskan bahwa IDAI pada dasarnya mendukung penuh upaya pemerintah dalam memperbaiki mutu gizi masyarakat. Namun, ia merasa memiliki tanggung jawab moral dan ilmiah untuk menjaga kebijakan yang berisiko.

Pembagian susu formula lanjutan dan pertumbuhan untuk anak usia di atas 6 bulan secara massal dinilai melanggar aturan hukum yang berlaku. Aturan tersebut merujuk pada UU No 17 Tahun 2023 dan PP No 28 Tahun 2024.

“Kami berharap Badan Gizi Nasional dan lembaga terkait yang mengatur distribusi MBG dapat mengikuti aturan kesehatan yang sudah ada, karena aturan itu sendiri sudah cukup kuat untuk melindungi anak-anak Indonesia. Negara harus hadir sebagai pelindung kesehatan anak-anak Indonesia,” ujar dr. Piprim dalam keterangan tertulisnya, Jumat (22/5/2026).

Senada dengan hal tersebut, Ketua Satgas ASI IDAI, dr. Naomi Esthernita F Dewanto, Sp.A Subsp Neo(K), menjelaskan bahwa perlindungan terhadap ASI merupakan bagian penting untuk mengembalikan keseimbangan gizi bangsa.

Ia memaparkan bahwa ASI memiliki ratusan komponen bioaktif yang krusial untuk memproteksi bayi. Komponen tersebut meliputi zat kekebalan tubuh dari ibu, bakteri baik untuk pencernaan, hingga stimulus untuk perkembangan otak anak.

Manfaat-manfaat yang terkandung dalam ASI ini, menurutnya, tidak akan bisa ditemukan pada susu formula. “ASI adalah yang terbaik yang bisa dibuat manusia saat ini, tidak ada satupun dari komponen ASI di atas yang bisa diganti. Anak-anak kita butuh ASI, jangan sampai kebijakan yang tidak tepat membuat anak-anak kehilangan sesuatu yang penting,” tutur dr. Naomi.

Sebagai rekomendasi, IDAI mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) untuk segera menyelaraskan aturan program MBG dengan standar kesehatan nasional dari Kementerian Kesehatan.

Baca juga: Prabowo Resmikan Pabrik Baterai Senilai Rp19,4 Triliun di Karawang

IDAI menekankan bahwa setiap program gizi nasional wajib mengutamakan perlindungan terhadap masa laktasi (menyusui). Hal ini dianggap sebagai pemeliharaan alami terbaik bagi anak-anak Indonesia. (*)