Mengenal Pola Makan ‘Viking’ Erling Haaland: Manfaat dan Risiko di Baliknya

Lifestyle7 Views

GueBerita.com – Penampilan impresif penyerang tim nasional Norwegia, Erling Haaland, dalam ajang Piala Dunia FIFA 2026 kembali menjadi sorotan dunia setelah ia berhasil mencetak tujuh gol dalam empat laga, sekaligus mengantar negaranya melangkah ke babak perempat final untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Di balik performa fisik yang luar biasa di atas lapangan, rahasia kebugaran bomber berusia 25 tahun ini akhirnya terungkap ke publik. Haaland diketahui menjalankan pola makan dengan asupan sekitar 6.000 kalori setiap harinya, yang ia bagi ke dalam enam porsi makan yang terjadwal secara ketat.

Metode nutrisi ini populer dengan sebutan “Diet Viking”, yang merupakan bentuk modifikasi dari pola makan paleo. Fokus utama dari diet ini adalah mengonsumsi makanan utuh (whole foods) yang sepenuhnya terbebas dari proses pengolahan industri atau bahan-bahan kimia tambahan.

Mengintip rutinitas hariannya, Haaland mengawali pagi dengan menu sarapan berupa roti sourdough dan telur. Sebagai pelengkap nutrisi sekaligus penguat energi, ia juga mengonsumsi secangkir kopi yang dicampur dengan susu serta sirup maple.

Memasuki waktu makan siang, menu yang dikonsumsi Haaland beralih ke kombinasi ikan, nasi goreng telur, dan aneka sayuran hijau seperti asparagus. Hal yang paling mencolok dari diet ini adalah keberadaan hidangan jeroan, seperti hati dan jantung sapi segar, yang rutin menjadi bagian dari santap siangnya.

Pada waktu makan malam, porsi yang dikonsumsi Haaland tergolong sangat besar, yakni lebih dari 1 kilogram daging merah berlemak tinggi. Biasanya, ia memilih potongan steak ribeye atau tomahawk, yang kemudian disandingkan dengan kentang, salad segar, dan segelas susu sebagai pendamping.

Salah satu pilar utama dalam pola makan bintang lapangan hijau ini adalah filosofi “dari hidung hingga ekor” atau nose-to-tail. Filosofi ini menekankan konsumsi menyeluruh terhadap bagian hewan yang aman dimakan, termasuk bagian sumsum tulang yang kaya akan nutrisi tertentu.

Menanggapi fenomena diet unik ini, para ahli nutrisi memberikan perspektif objektif mengenai manfaat yang mungkin dirasakan oleh sang atlet. Kebiasaan Haaland yang memprioritaskan bahan-bahan alami seperti telur, ikan, daging segar, dan sayuran secara signifikan mengurangi asupan gula rafinasi, kadar natrium yang berlebihan, serta lemak trans olahan yang dikenal buruk bagi kesehatan tubuh.

Pasokan protein dalam jumlah besar yang berasal dari berbagai sumber hewani ini dinilai sangat optimal untuk mendukung pemeliharaan jaringan otot, mempercepat proses pemulihan setelah mengalami cedera, serta memberikan rasa kenyang yang lebih awet bagi tubuhnya.

Selain itu, asupan karbohidrat kompleks yang diperoleh dari roti sourdough dan kentang menjadi sumber bahan bakar utama yang krusial. Energi ini sangat dibutuhkan untuk menunjang aktivitas fisik dengan intensitas tinggi yang menjadi ciri khas seorang atlet elite di level internasional.

Meskipun diet ini terbukti efektif bagi Haaland, para ahli gizi tetap memberikan catatan penting terkait pola makan sehat secara umum. Mereka biasanya tetap merekomendasikan formula piring sehat yang seimbang, yaitu komposisi yang terdiri dari:

  • Setengah bagian piring diisi oleh sayuran.
  • Seperempat bagian piring diisi oleh karbohidrat utuh.
  • Seperempat bagian piring diisi oleh sumber protein.

Namun, di balik nilai gizi yang padat dan performa fisik yang menawan, para pakar kesehatan memberikan peringatan keras. Masyarakat umum diimbau untuk tidak meniru kebiasaan makan Haaland secara mentah-mentah tanpa pengawasan ahli.

Pola makan dengan kalori yang sangat tinggi dan spesifik seperti ini dirancang khusus untuk kebutuhan metabolisme atlet dengan aktivitas fisik yang ekstrem, sehingga tidak selalu cocok atau aman jika diterapkan oleh orang awam.

Risiko kesehatan tersembunyi seperti ketidakseimbangan nutrisi, beban kerja organ yang berlebih, hingga dampak dari konsumsi daging merah dalam jumlah besar secara terus-menerus perlu diwaspadai. Oleh karena itu, memahami kebutuhan tubuh sendiri jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti tren diet atlet profesional.