Shakira hingga BTS Disebut Bakal Tampil Tanpa Bayaran di Piala Dunia 2026

GueBerita.com – Rencana penyelenggaraan hiburan pada partai puncak Piala Dunia 2026 kini menjadi topik hangat di tengah masyarakat. Hal ini dipicu oleh munculnya informasi yang menyebutkan bahwa para musisi kelas dunia yang akan tampil tidak menerima bayaran atau honorarium penampilan secara langsung.

Beberapa figur publik dengan reputasi internasional, mulai dari Shakira, Madonna, Justin Bieber, hingga grup idola populer asal Korea Selatan, BTS, dikabarkan masuk dalam daftar kandidat pengisi acara pada segmen Halftime Show turnamen sepak bola paling bergengsi tersebut.

Berdasarkan laporan yang dirilis oleh Daily Mail, para pengisi acara ini disebut-sebut tidak mendapatkan kompensasi finansial berupa fee penampilan sebagaimana yang lazim ditemukan dalam konser komersial pada umumnya.

Meskipun tidak ada pembayaran honor, pihak FIFA selaku penyelenggara turnamen menyatakan tetap bertanggung jawab penuh atas segala kebutuhan operasional dan produksi teknis selama acara berlangsung. Ini mencakup seluruh aspek krusial mulai dari sistem pencahayaan, kualitas tata suara, hingga pemenuhan kebutuhan logistik para artis beserta tim pendukungnya.

Lebih lanjut, para musisi tetap diberikan uang saku harian selama masa persiapan atau latihan. Skema ini diketahui mengadopsi model yang serupa dengan mekanisme penyelenggaraan pertunjukan Halftime Show pada ajang Super Bowl di Amerika Serikat.

Dalam ekosistem bisnis hiburan berskala masif seperti ini, panggung global yang disediakan oleh penyelenggara diposisikan sebagai nilai tukar utama. Panggung tersebut menggantikan fungsi honorarium tunai yang biasanya diterima oleh musisi dalam pertunjukan komersial standar.

Bagi musisi dan pihak manajemen, kesempatan untuk tampil di hadapan ratusan juta penonton dari berbagai negara di dunia dianggap sebagai aset promosi yang sangat berharga. Dampak paparan global yang dihasilkan jauh melampaui nilai kontrak pertunjukan biasa.

Manfaat tidak langsung yang dirasakan oleh para artis meliputi peningkatan drastis pada jumlah pemutaran lagu di berbagai platform musik digital (streaming) serta lonjakan angka penjualan album. Selain itu, momentum tersebut sering kali membuka pintu bagi berbagai peluang kolaborasi komersial dan kontrak kerja sama baru setelah acara berakhir.

Strategi ini menunjukkan pergeseran paradigma dalam industri pertunjukan olahraga, di mana nilai ekonomi sebuah acara tidak lagi diukur dari fee langsung, melainkan dari potensi eksposur besar yang mampu meningkatkan nilai jual musisi dalam jangka panjang.

Keputusan FIFA untuk menerapkan skema ini menegaskan bahwa panggung Piala Dunia 2026 tidak hanya sekadar ajang olahraga, tetapi juga merupakan platform pemasaran global yang sangat prestisius. Bagi para musisi, menjadi bagian dari sejarah sepak bola dunia adalah bentuk investasi karier yang sangat strategis.

Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak manajemen artis terkait detail kontrak tersebut. Namun, melihat preseden dari acara-acara besar sebelumnya, pola kerja sama tanpa honor langsung ini kemungkinan besar akan tetap menjadi standar untuk perhelatan sekelas Piala Dunia.

Publik kini menantikan siapa saja nama-nama besar yang akhirnya akan benar-benar tampil di lapangan hijau nantinya. Terlepas dari skema pembayarannya, skala produksi dan jangkauan penonton yang masif dipastikan akan menjadikan pertunjukan tersebut sebagai salah satu momen hiburan paling ikonik di tahun 2026.

Secara keseluruhan, model bisnis ini menciptakan simbiosis antara penyelenggara yang ingin menyajikan hiburan berkualitas tinggi tanpa beban biaya artis, dan musisi yang membutuhkan panggung besar untuk memperluas jangkauan audiens global mereka secara instan.

(*)