Prabowo Akhiri Lawatan Kenegaraan di Paris Setelah Disambut Pejabat Tinggi

Nasional58 Views

GueBerita.com – Pesawat kepresidenan mendarat di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma pada Sabtu pagi, 30 Mei 2026.

Presiden Prabowo Subianto telah menyelesaikan rangkaian kunjungan kenegaraan di Paris, Prancis, dan kini kembali ke Tanah Air.

Selama berada di Paris, Presiden telah menjalin kemitraan strategis dan mengamankan komitmen investasi yang signifikan bagi Indonesia, melalui berbagai agenda mulai dari kunjungan ke Istana Élyse hingga pertemuan dengan diaspora.

Baca juga: Cynthia Erivo Tegaskan Persahabatannya dengan Ariana Grande Bukan Sekadar Promosi Wicked

Kedatangan Presiden disambut hangat oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming. Turut hadir dalam penyambutan tersebut Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dan Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita.

Penerbangan kembali ke Jakarta ini merupakan penutup dari rangkaian kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo di ibu kota Prancis.

Sebelumnya, pada Jumat, 29 Mei 2026, Presiden dilepas dengan upacara penghormatan militer di Bandara Orly oleh pejabat tinggi Pemerintah Republik Prancis. Penghormatan ini merupakan bentuk penghargaan terhadap Indonesia.

Kunjungan kenegaraan ini merupakan bagian dari upaya diplomasi aktif Indonesia untuk memperluas jaringan kemitraan di tingkat global. Hal ini juga bertujuan untuk memperkuat posisi Indonesia di kawasan Eropa serta membuka peluang kerja sama yang luas demi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Penghormatan militer yang diberikan di Bandara Orly menjadi simbol pengakuan dan penghargaan Prancis terhadap Indonesia.

Prosesi pelepasan yang berlangsung khidmat tersebut menandai eratnya hubungan kedua negara, yang kini telah meningkat statusnya menjadi sebuah “kemitraan strategis”.

Diskusi yang berlangsung di Istana Élyse tidak hanya terbatas pada aspek perdagangan, tetapi juga mencakup isu-isu global yang memiliki dampak langsung terhadap kawasan.

Dalam rangkaian kunjungan tersebut, berhasil disepakati empat perjanjian komersial dengan nilai total mencapai USD 3,5 miliar. Kesepakatan ini berfokus pada sektor-sektor krusial seperti ketahanan energi, perdagangan, dan pertahanan.