GueBerita.com — Sering kali, saat seseorang kehilangan hewan peliharaan kesayangannya, orang-orang di sekitar cenderung melontarkan komentar yang meremehkan seperti “hanya hewan” atau “nanti bisa cari yang baru”. Padahal, respons semacam ini justru melukai perasaan mereka yang sedang berduka dan memvalidasi kesedihan yang sebenarnya sangat nyata dan mendalam.
Sebuah studi komprehensif yang dirilis dalam jurnal ilmiah PLOS One pada Januari 2026 menegaskan bahwa intensitas kesedihan yang dirasakan saat kehilangan hewan peliharaan setara dengan duka saat ditinggal oleh orang yang dicintai. Penelitian ini membongkar mitos bahwa ikatan emosional dengan hewan hanyalah hubungan superfisial semata.
Dalam upaya memahami dinamika emosional ini, para peneliti melakukan observasi mendalam terhadap 975 partisipan dewasa yang berdomisili di Inggris. Fokus utamanya adalah membedah bagaimana seseorang memproses dan bereaksi terhadap berbagai bentuk kehilangan dalam hidup mereka.
Temuan yang dihasilkan dari riset tersebut tergolong signifikan dan membuka mata publik. Dari total responden yang pernah mengalami duka akibat kehilangan sosok manusia maupun hewan peliharaan, sebanyak 21% menyatakan bahwa kehilangan hewan kesayangan mereka merupakan pengalaman duka yang paling berat sepanjang hidup.
Analisis ini didukung oleh perspektif kesehatan mental yang sejalan dengan literatur dari Harvard Health. Ikatan emosional yang terjalin antara pemilik dan hewan peliharaan biasanya dibangun melalui interaksi rutin yang konsisten, dukungan kasih sayang tanpa syarat, serta rasa aman yang diberikan oleh kehadiran hewan tersebut.
Bagi banyak orang, hewan peliharaan bukan sekadar pelengkap di dalam rumah. Mereka adalah teman setia yang mendengarkan tanpa menghakimi di saat-saat sulit, sehingga posisi mereka dalam struktur emosional pemiliknya sudah setara dengan anggota keluarga inti.
Oleh karena itu, ketika seseorang sedang berada dalam fase berduka karena kematian hewan kesayangannya, memberikan ruang emosional adalah bentuk dukungan yang paling bijak dan manusiawi. Dukungan yang tulus sangat dibutuhkan untuk membantu mereka melewati masa transisi tersebut.
“Jadi, kalau ada orang yang sedang berduka karena kehilangan anabulnya, cukup beri ruang. Tidak perlu dibandingkan, tidak perlu dikecilkan, dan tidak perlu dipaksa cepat-cepat baik-baik saja. Karena besar kecilnya duka bukan ditentukan oleh siapa yang pergi, tetapi sedalam apa ikatan yang pernah ada.”
Memahami bahwa duka adalah proses yang sangat personal dan alami sangatlah penting. Menghargai ikatan emosional antara manusia dan hewan tanpa perlu memberikan perbandingan atau meremehkan artinya merupakan bentuk simpati terbaik bagi mereka yang sedang berjuang melawan rasa kehilangan.
Berikut adalah beberapa poin penting dalam memahami duka atas kehilangan hewan peliharaan:
- Validasi Perasaan: Mengakui bahwa kehilangan hewan adalah kehilangan yang nyata dan sah.
- Jangan Membandingkan: Menghentikan kebiasaan membandingkan kehilangan hewan dengan kehilangan manusia, karena setiap ikatan memiliki kedalaman masing-masing.
- Ruang untuk Berduka: Memberikan waktu bagi pemilik untuk meratapi kepergian peliharaan mereka tanpa tekanan untuk segera pulih.
- Kehadiran Tanpa Syarat: Memahami bahwa hewan peliharaan sering kali menjadi sumber dukungan emosional utama bagi pemiliknya.
Pada akhirnya, empati yang diberikan kepada seseorang yang berduka atas kehilangan anabulnya adalah cerminan dari pemahaman kita terhadap nilai sebuah hubungan. Menghargai duka seseorang adalah langkah krusial dalam memberikan dukungan kesehatan mental yang sehat dan suportif.(*)






