Kepadatan Penyeberangan di Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk, ASDP Meminta Maaf

Viral1 Views

GueBerita.com – Kemacetan dan antrean panjang kendaraan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, serta Pelabuhan Gilimanuk, Bali, telah menjadi topik hangat di kalangan publik dalam beberapa hari terakhir.

Banyak pengguna media sosial yang membagikan pengalaman mereka, di mana waktu tempuh yang seharusnya singkat, berubah menjadi berjam-jam menunggu giliran untuk menyeberang di lintasan Ketapang-Gilimanuk.

Salah satu cerita yang viral datang dari akun Instagram @diahrara91. Ia menceritakan bahwa perjalanan yang diperkirakan memakan waktu sekitar satu jam, ternyata membengkak menjadi lima jam akibat panjangnya antrean kendaraan.

Melalui sebuah video yang diunggah pada hari Kamis, 25 Juni 2026, akun tersebut dengan jelas memperlihatkan kepadatan kendaraan yang sudah terlihat sejak di luar area Pelabuhan Ketapang. Ia pun memberikan imbauan kepada calon penumpang agar mempersiapkan bekal makanan dan minuman, serta mengutamakan kesabaran dalam menghadapi antrean yang panjang.

Kondisi serupa juga diabadikan dan dibagikan oleh akun Instagram @balisanbus. Unggahan tersebut menampilkan antrean panjang kendaraan di Pelabuhan Gilimanuk. Kepadatan ini menyebabkan penumpukan kendaraan di area parkir pelabuhan dan berujung pada keterlambatan jadwal keberangkatan kapal penyeberangan.

Sementara itu, akun Instagram @soniaasha_ turut menyuarakan keresahannya. Ia menyebut kemacetan yang terjadi di kawasan Ketapang sebagai masalah yang sering berulang dan berharap agar ada perbaikan kebijakan yang lebih efektif untuk mengatasi kepadatan tersebut. Keluhannya ini dikutip pada hari Jum’at, 26 Juni 2026.

Menanggapi situasi ini, Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Heru Widodo, memberikan penjelasan. Ia mengemukakan bahwa kepadatan yang terjadi dipicu oleh lonjakan volume kendaraan yang mulai meningkat sejak hari Minggu, 21 Juni 2026. Peningkatan ini bertepatan dengan periode libur sekolah yang biasanya ramai dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berlibur.

Heru Widodo menambahkan bahwa jumlah kendaraan roda empat pribadi yang melakukan penyeberangan mengalami peningkatan signifikan, yaitu sekitar 30 persen dibandingkan dengan hari-hari normal. Selain itu, faktor cuaca buruk juga turut memberikan pengaruh terhadap proses bongkar muat kapal. Hal ini dilakukan demi memastikan keselamatan seluruh penumpang dan kru kapal selama pelayaran.

ASDP Indonesia Ferry juga secara resmi menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pengguna jasa atas ketidaknyamanan yang timbul akibat kepadatan penyeberangan tersebut. Perusahaan menyadari dampak yang dirasakan oleh masyarakat.

Sebagai langkah penanggulangan, perusahaan menyatakan bahwa mereka telah berupaya mengoptimalkan penggunaan armada kapal yang tersedia dan meningkatkan kapasitas fasilitas di pelabuhan. ASDP juga menegaskan bahwa mereka terus menjalin koordinasi erat dengan pihak regulator terkait dan seluruh pemangku kepentingan lainnya. Tujuannya adalah untuk mempercepat proses normalisasi layanan penyeberangan agar kembali lancar seperti sedia kala. (*)