GueBerita.com – Aksi bersih-bersih sampah yang secara konsisten dilakukan oleh para penggemar sepak bola asal Jepang di berbagai ajang turnamen internasional kini menjadi topik perdebatan yang hangat.
Kebiasaan yang sebelumnya banyak mendapatkan pujian dari berbagai belahan dunia ini ternyata menuai kritik dari kalangan akademisi dan para aktivis. Mereka berpendapat bahwa terdapat standar ganda dalam memandang tanggung jawab kebersihan, khususnya antara ruang publik dan lingkungan rumah tangga.
Salah satu suara kritis tersebut datang dari Profesor Atsuko Tamada yang merupakan akademisi dari Universitas Chubu. Melalui unggahan di akun media sosialnya, X (@atsukotamada), ia menyampaikan pandangannya.
Bersama dengan beberapa aktivis lainnya, Profesor Tamada mengungkapkan kekhawatirannya bahwa perhatian besar publik terhadap aksi bersih-bersih di stadion dapat mengalihkan fokus utama. Perhatian tersebut berpotensi mengaburkan isu ketimpangan gender yang masih menjadi persoalan serius di dalam rumah tangga masyarakat Jepang.
Data yang berhasil dikumpulkan oleh para aktivis menunjukkan gambaran yang mencolok. Kontribusi pria di Jepang dalam hal pekerjaan rumah tangga dan kewajiban mengasuh anak tercatat sebagai salah satu yang paling rendah jika dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya. Hal ini menandakan adanya ketidakseimbangan yang signifikan.
Sebaliknya, kaum perempuan di Jepang masih tercatat menghabiskan porsi waktu yang jauh lebih besar untuk menyelesaikan berbagai urusan domestik. Beban pekerjaan rumah tangga ini masih sangat didominasi oleh perempuan.
Dalam konteks ini, beredarnya sebuah poster kampanye menjadi sorotan. Poster tersebut secara gamblang menggambarkan sebuah kontras yang tajam. Di satu sisi, poster menampilkan suporter pria yang terlihat sangat antusias dan aktif dalam memunguti sampah di area stadion. Namun, di sisi lain, poster tersebut juga menunjukkan sikap pasif suporter pria yang sama ketika pasangannya tengah melakukan pekerjaan rumah tangga di rumah.
Kampanye yang diusung melalui poster ini membawa pesan yang kuat dan mendalam. Pesan tersebut menekankan bahwa kepedulian terhadap kebersihan dan rasa tanggung jawab sosial tidak seharusnya hanya diekspresikan di ruang publik semata. Lebih dari itu, hal tersebut perlu diimbangi dengan kontribusi dan partisipasi yang nyata di dalam lingkungan keluarga.
Meskipun memicu gelombang kritik yang menyoroti isu kesetaraan gender, tidak sedikit pula masyarakat yang memberikan pembelaan terhadap aksi para suporter tersebut di ranah media sosial. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa budaya menjaga kebersihan di stadion merupakan sebuah kebiasaan positif yang patut diapresiasi secara terpisah dari isu lainnya.






