Prabowo Bandingkan Rekam Jejak Taruna Dirinya dengan SBY

News60 Views

GueBerita.com – Momen keakraban antara dua tokoh penting Indonesia, Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kembali terlihat saat perayaan puncak HUT ke-25 Partai Demokrat di Indonesia Arena, Jakarta, Rabu, 9 September 2026.

Dalam pidatonya, Prabowo mengenang masa-masa saat keduanya masih menimba ilmu di Akademi Militer (Akmil). Ia memberikan apresiasi yang cukup hangat dengan menyebut SBY sebagai sosok yang menonjol sejak awal masa pendidikan.

Prabowo menceritakan bahwa meskipun mereka masuk ke dalam angkatan yang sama, terdapat perbedaan durasi masa pendidikan di antara keduanya. SBY berhasil lulus lebih awal dengan predikat sebagai taruna terbaik, sementara Prabowo menyelesaikan pendidikannya pada angkatan berikutnya.

“Memang dari awal sudah kelihatan bahwa Pak SBY memang taruna yang terbaik. Tapi Prabowo Subianto taruna yang bisa diperbaiki,” ujar Prabowo di hadapan para kader Partai Demokrat.

Kehadiran Prabowo dalam acara tersebut tidak hanya untuk merayakan hari jadi partai berlambang bintang mercy itu, tetapi juga sebagai penghormatan kepada SBY yang merayakan ulang tahun ke-77. Sebagai penggagas sekaligus pendiri Partai Demokrat, peran SBY dinilai memiliki signifikansi besar dalam peta perpolitikan nasional.

Dalam kesempatan yang sama, Prabowo menarik benang merah antara latar belakang militer mereka dengan keputusan untuk terjun ke dunia politik. Keduanya merupakan purnawirawan jenderal yang dibesarkan dalam doktrin sebagai tentara rakyat.

Menurut Prabowo, pendidikan militer yang mereka terima menekankan bahwa pengabdian kepada masyarakat adalah orientasi utama. Prinsip inilah yang kemudian mereka bawa saat beralih ke jalur politik melalui mekanisme demokrasi.

Prabowo memberikan pengakuan bahwa dirinya sempat mencontoh langkah SBY dalam membangun karier politik. Ia menyebut bahwa keberanian SBY untuk mendirikan partai politik dan meraih mandat rakyat melalui pemilihan umum adalah contoh yang positif untuk diikuti.

“Kalau nyontek yang baik, boleh. Saya juga bikin partai, maju ke rakyat, minta mandat,” ungkap Prabowo dengan nada santai namun sarat akan apresiasi terhadap proses demokrasi yang telah dijalani.

Refleksi tersebut juga menyentuh perjalanan politik masing-masing. Prabowo secara terbuka menceritakan bahwa ia harus melalui empat kali kegagalan sebelum akhirnya mendapatkan mandat rakyat sebagai Presiden RI. Hal serupa juga terjadi pada Partai Demokrat, yang sempat merasakan berada di puncak pemerintahan hingga harus berada di luar pemerintahan.

Bagi Prabowo, dinamika politik yang naik-turun tersebut adalah bagian alami dari pendewasaan demokrasi di Indonesia. Ia menekankan bahwa perbedaan posisi politik tidak seharusnya mengikis persahabatan maupun semangat persatuan antar tokoh bangsa.

Acara perayaan HUT ke-25 Partai Demokrat ini pun menjadi cerminan bagaimana para pemimpin di Indonesia dapat menjaga komunikasi dan hubungan baik, meskipun memiliki latar belakang sejarah dan perjalanan politik yang berbeda-beda. Sikap saling menghargai ini dianggap sebagai modal penting dalam menjaga stabilitas nasional ke depannya.