Memahami Fenomena Eommisae: Mengapa Generasi Muda Korea Selatan Memilih Tinggal Bersama Ibu karena Tekanan Ekonomi

Lifestyle7 Views

GueBerita.com – Lanskap sosial di Korea Selatan tengah mengalami transformasi budaya yang signifikan terkait konsep kemandirian bagi generasi muda. Jika di masa lalu predikat ketergantungan pada orang tua atau label “anak mama” dipandang sebagai sebuah stigma negatif, kini jutaan anak muda di Negeri Ginseng justru mengadopsi identitas baru dengan bangga.

Istilah yang sedang naik daun dan menjadi fenomena viral tersebut adalah “eommisae.” Kata ini merujuk pada para pemuda yang secara terbuka menampilkan kedekatan emosional yang intens serta keterikatan positif dengan sosok ibu mereka di berbagai kanal media sosial seperti Instagram hingga YouTube.

Pola hidup eommisae terlihat melalui berbagai konten video dan foto yang dibagikan oleh para pemuda. Dalam unggahan tersebut, mereka lebih memilih menghabiskan waktu luang untuk berbelanja, bepergian, hingga menikmati santap malam bersama ibu dibandingkan berinteraksi dengan teman sebaya di luar rumah.

Berlawanan dengan pandangan lama yang menganggap perilaku ini sebagai tanda ketidakdewasaan, para penganut tren eommisae justru mengusung label tersebut sebagai bentuk identitas diri yang positif. Mereka tidak lagi merasa malu, melainkan dengan percaya diri memamerkan keakraban dengan orang tua mereka sebagai gaya hidup.

Popularitas istilah ini semakin meluas setelah sejumlah idola K-pop papan atas memberikan sorotan pada tren tersebut. Salah satu figur publik yang berperan besar adalah Wonhee, anggota grup idola ILLIT, yang secara terbuka menunjukkan dukungannya terhadap istilah ini dalam sebuah tayangan hiburan digital.

Saat tampil di saluran YouTube Idol Human Theater, Wonhee secara eksplisit menyebut “eommisae” sebagai slang favoritnya. Pernyataan tersebut memicu reaksi berantai di dunia maya, yang pada akhirnya membuat istilah ini dikenal oleh audiens secara global.

Namun, di balik narasi ceria dan konten kehangatan keluarga yang bertebaran di media sosial, terdapat dimensi psikososial yang lebih dalam. Fenomena ini bukan sekadar tren internet yang muncul tanpa landasan, melainkan sebuah respons terhadap realitas ekonomi yang menantang di Korea Selatan.

Saat ini, generasi muda di Korea Selatan menghadapi tekanan finansial yang sangat berat. Kondisi ini dipicu oleh berbagai faktor, di antaranya adalah lonjakan harga properti yang sulit dijangkau, biaya sewa tempat tinggal yang melambung tinggi, serta ketersediaan lapangan kerja yang semakin kompetitif dan terbatas.

Ketidakpastian ekonomi yang terus membayangi membuat banyak pemuda terpaksa menunda impian untuk mandiri secara penuh. Dalam situasi ini, rumah orang tua menjadi satu-satunya tempat berlindung yang paling aman, stabil, dan realistis secara finansial bagi mereka.

Fakta empiris mengenai kondisi ini diperkuat oleh data statistik yang diterbitkan oleh Kantor Koordinasi Kebijakan Pemerintah Korea Selatan pada tahun 2024. Survei komprehensif tersebut mengungkapkan bahwa sekitar 54,4 persen penduduk yang berada dalam rentang usia 19 hingga 34 tahun masih memilih untuk tinggal satu atap dengan orang tua mereka.

Angka ini menunjukkan peningkatan yang konsisten dan signifikan jika disandingkan dengan data historis dari tahun 2000. Pada saat itu, tingkat ketergantungan hunian antara anak muda dan orang tua hanya berada di angka 46 persen, yang menandakan adanya perubahan pola hidup yang sangat nyata dalam dua dekade terakhir.

Fenomena eommisae pada akhirnya mencerminkan adaptasi generasi muda terhadap krisis ekonomi yang mereka alami. Meskipun dikemas dengan cara yang modern dan penuh afeksi di media sosial, tren ini menjadi cermin bagi tantangan struktural yang dihadapi oleh kaum muda di tengah ketatnya persaingan hidup di Korea Selatan.